Selasa, 14 Juni 2011

MEMAHAMI ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN SENI

2.1. Ilmu Pengetahuan Teknologi Dan Seni
Untuk memperjelas, akan disebutkan dulu beberapa pengertian dasar. Ilmu pengetahuan (sains) adalah pengetahuan tentang gejala alam yang diperoleh melalui proses yang disebut metode ilmiah (scientific method) .Sedang teknologi adalah pengetahuan dan ketrampilan yang merupakan penerapan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Perkembangan iptek, adalah hasil dari segala langkah dan pemikiran untuk memperluas, memperdalam, dan mengembangkan iptek.
Peran Islam dalam perkembangan iptek, adalah bahwa Syariah Islam harus dijadikan standar pemanfaatan iptek. Ketentuan halal-haram (hukum-hukum syariah Islam) wajib dijadikan tolok ukur dalam pemanfaatan iptek, bagaimana pun juga bentuknya. Iptek yang boleh dimanfaatkan, adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sedangkan iptek yang tidak boleh dimanfaatkan, adalah yang telah diharamkan syariah Islam.
Kata “seni” adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kata seni berasal dari kata “SANI” yang kurang lebih artinya “Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa”. Namun menurut kajian ilimu di Eropa mengatakan “ART” (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan.
Pandangan Islam tentang seni. Seni merupakan ekspresi keindahan. Dan keindahan menjadi salah satu sifat yang dilekatkan Allah pada penciptaan jagat raya ini. Allah melalui kalamnya di Al-Qur’an mengajak manusia memandang seluruh jagat raya dengan segala keserasian dan keindahannya. Allah berfirman: “Maka apakah mereka tidak melihat ke langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan tiada baginya sedikit pun retak-retak?” [QS 50: 6].


2.2. Iman, Ilmu dan Amal Sesuai Kesatuan
Ilmu Sebagai Referensi keKholifahan
Islam sangat menekankan umatnya untuk terus menuntut ilmu. Sebab kemanusiaan manusia, khususnya dalam perannya sebagai kholifah fil ard akan sangat nampak ketika mereka berintegrasi dengan ilmu pengetahuan. Rasulullah menstimulasi umatnya untuk menuntut ilmu dengan sabdanya : ‘ Tuntutlah ilmu dari sejak buaian hingga ke liang lahat”. Bahkan dalam hadist lain di nyatakan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi semua umat muslim : “ tholibul ilmi faridhotan ‘alal muslimin wal muslimat”. Dalam hadist tersebut seolah-olah kita semua di ingatkan bahwa kewajiban menuntut ilmu ini, di sebabkan karena penguasaan atas ilmu itulah yang menjadi dasar penetapan Allah memilih manusia sebagai kholifah. Ketika para malaikat “ mempertanyakan” keputusan Allah mengangkat Adam sebagai kholifah, dan membandingkan dengan diri mereka sebagai makhluk yang selalu mengkuduskan Allah, maka Allah memperlihatkan kelebihan apa yang telah di miliki Adam sehingga Dia memilihnya. Al-Qur’an menjelaskan: “ Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada malaikat lalu berfirman : “sebutlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang benar-benar orang yang benar. Para malaikat menjawab : “ Maha Suci Engkau , tidak ada yang kami ketahui melainkan dari apa yang telah Engkau ajarkan, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi Bijaksana. Lalu Allah berfirman : ‘ hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu” maka setelah di beritahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman : ‘ bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu zahirkan maupan yang kamu sembunyikan? “ ( QS. Al-Baqoroh : 31-33 )
Ayat tersebut sangat menjelaskan bahwa sesungguhnya aspek keilmuan itulah yang menjadi referensi otorisasi sehingga Allah mempercayakan kekholifahan kepada manusia. Menurut ayat tersebut, kedudukan manusia yang berilmu itu di nilai sebagai makhluk yang paling layak dalam mengemban tugasnya sebagai kholifah. Ini memberikan dampak pada penetapan yang berlaku umum, agar kepemimpinan dalam hal apapun harus di dasarkan pada kapasitas keilmuaan yang memadai.
Jadi dengan demikian, satu hal yang harus di garis bawahi, mengingat peran manusia sebgai kholifah tersebut, maka islam memandang bahwa menuntut ilmu bukanlah sesuatu yang hanya bersifat anjuran, melainkan adalah kewajiban. Tidak ada yang dapat di jalankan manusia berkaitan dengan tugasnya itu, baik dalam urusan di dunia ini maupun urusan ukhrowi melainkan harus di topang dengan ilmu pengetahuan.

Pembagaian ilmu
Berdasarkan hadist-hadist di atas, jelaslah tidak ada yang bernilai sunnah dalam hal menuntut ilmu. Hal ini kan nampak lebih jelas ketika kita mempelajari pendangan ulama tentang pembagian ilmu.
Sejatinya, Pengklasifikasian ilmu bukanlah merupakan sesuatu hal yang gamblang (tersurat) dalam Al-quran. Pengklaisifikasian ilmu dalam islam lebih kepada hasil ijtihad ulama muslim yang di mulai dari sejak abad-abad pertama Islam. Namun, ijtihad itu justru bersumber dari kandungan Al-Qur’an dan Sunnah, yang ajarannya memiliki cakupan dalam segala bidang ilmu pengetahuan.
Sebagai rujukan awal kita dapat menggunakan klasifikasi ilmu menurut pandangan Hujjatul Islam Imam Ghazali, yang dapat di kembangkan lebih lanjut pada upaya pengklasifikasian ilmu yang lebih baik mengikuti perkembangan zaman.
Imam Ghazali, berdasarkan aspek hukumnya, membagi ilmu pengetahuan menjadi 2, yaitu ilmu-ilmu fardhu ‘ain dan ilmu-ilmu fardhu kifayah. Dalam konteks beliau, yang termasuk kedalam ilmu-ilmu fardhu ‘ain adalah:
1. Ilmu Aqidah yang dapat menyelamatkan manusia dari keyakinan bathil dan berbau syirik
2. Ilmu Syari’ah yang dapat menjadikan manusia mampu manjalankan ibadah kepada Allah dengan benar sesuai dengan ketentuan dan ajaran yang telah di syri’atkan Allah melalui Rasul-Nya.
3. Ilmu yang dapat memberi pengenalan dan penjelasan tentang tata cara membersihkan jiwa dan mensucikan hati. Di dalam ilmu ini di bahas tentang apa saja yang dapat mengantarkan manusia kepada kebersihan jiwanya untuk kemudian di amalkan, dan apa saja yang dapat mengotori jiwa/hatinya, untuk kemudian di jauhkan/di tinggalkan
4. Ilmu yang dapat memberi kedisplinan dalam hal adab bermuamalah baik kepada sesamanya, maupan kepada lingkungannya. Dengan ilmu ini akan di ketahui apa saja yang haram halal, pantas atau tidak pantas dan bermanfaat atau tidak bermanfaat.
Sedangkan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu yang dapat memberikan manfaaat nyata dalam usaha memenuhi hajat kebutuhan manusia pada umumnya, dan kepada umat muslim pada khususnya, agar dengan ilmu itu manusia dapat meningkatkan kekuatan dan kualitas kehidupannya. Yang termasuk kedalam jenis ilmu ini adala ilmu-ilmu kauniyah semacam kedokteran, tekhnik, pertanian, ilmu lingkungan, ilmu falaq, ilmu pasti, manajemen dan lain sebaginya.

Intrgritas iman ilmu dan amal
Perintah menuntut ilmu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, ia merupakan sebuah kelanjutan dari satu langkah, dan menjadi sebuah langkah untuk langkah-langkah selanjutnya. Dalam keyakinan muslim, Tidak ada nilai ruhani dari ilmu pengetahuan bila tidak di landaskan atas dasar keimanan kepada Allah. Ilmu yang didasarkan iman itu akan melahirkan sifat Tawadhu’ dan merendah, sadar akan tujuan untuk apa ilmu itu di gunakan. Sebaliknya, ilmu yang tanpa iman akan dapat memunculkan kesombongan dan kepongahan manusia, sehingga melahirkan bencana dan ancaman yang dapat merusak bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Dalam keyikanan umat muslim pula, tidak ada, dan seharusnya memang demikian, perlakuan dikotomi antara iman, ilmu dan pengamalannya. Kemanfaatan ilmu itu, baik untuk sendiri maupun untuk di luar dirinya, akan terlihat nyata bila ilmu tersebut benar-benar diamalkan. Dan kemanfaatan ilmu yang di amalkan, hanya akan dapat menurunkan balasan dari Allah swt berupa hayyatan thoyibah ( kehidupan yang baik ) dan ajrohum bi ahsan (pahala yang lebih baik ) apabila hal itu di landaskan atas dasar keimanan kepada Allah kholiqul alam. Kita semua di persilahkan untuk menuntut ilmu apa saja yang kita senangi, namun Allah swt sekali-kali tidak akan memberi balasan hanya dengan cara mengumpulkan berbagai ilmu, sampai kita semua mau mengamalkannya dengan sepenuh iman dalam kehidupan nyata. Allah swt berfirman: “ Baarngsiapa yang mengejarkan amal sholeh baik laki-laki maupuan wanita dalam keadaan penuh iman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik, dan sesunggguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahaal yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
(QS. An-Nahl: 97 )
Di tempat lain allah berfirman :
“ Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mangatakan apa yang tidak kau perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kau kerjakan” ( QS. Ash-shof: 2-3 )
Juga Firman-Nya :
“ Mengapakah kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan kewajiban mu sendiri, padahal kamu membaca kitab, apakah kamu tidak berpikir (QS. Al-Baqoroh: 44 )
Demikanlah kesatuan iman, ilmu, dan amal yang menjadi formula bagi orang-orang sholeh dalam menjalankan perannya sebagai kholifah fil ard. Mereka adalah orang-orang yang beriman, beilmu pengetahuan dan yang mengamalkan ilmu yang di milikinya. Kehidupan mereka diliputi kebajikan yang menyebar dan mempengaruhi kehidupan orang banyak untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki, yaitu keridhoan Allah swt, sehingga Allah bersedia memberi berkah bagi kehidupan mereka dan mengangakat derajatnya melebihi dari orang-oarang beriman kebanyakan. Firman Allah swt : “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang di berilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadalah: 11 ).
Konsep kesatuan iman, ilmu, dan amal adalah merupakan kelanjutan dari konsep dunia wal akhiroh. Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang terputus dari kehidupan akherat, melainkan merupakan wasilah yang saling terkait. Hasil dan kondisi yang kita peroleh di akherat sangat bergantung pada sejauh mana kita berusaha menanamkan benihnya di dunia ini.

2.3. Kewajiban Menuntut Ilmu
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah ta’ala dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Hal ini merupakan kewajiban karena nikmat yang telah diberikan Allah ta’ala kepada kita. Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, ia adalah orang yang yang tidak tahu berterima kasih. Maka manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah ta’ala adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

Kewajiban mencari ilmu
Pada dasarnya kita hidup didunia ini tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Tentunya beribadah dan beramal harus berdasarkan ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Al-Hadist. Tidak akan tersesat bagi siapa saja yang berpegang teguh dan sungguh-sungguh perpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Disebutkan dalam hadist, bahwasanya ilmu yang wajib dicari seorang muslim ada 3, sedangkan yang lainnya akan menjadi fadhlun (keutamaan). Ketiga ilmu tersebut adalah ayatun muhkamatun (ayat-ayat Al-Qur’an yang menghukumi), sunnatun qoimatun (sunnah dari Al-hadist yang menegakkan) dan faridhotun adilah (ilmu bagi waris atau ilmu faroidh yang adil).
Dalam sebuah hadist rasulullah bersabda, “ mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata dan emas pada babi hutan.”(HR. Ibnu Majah dan lainya).
Juga pada hadist rasulullah yang lain,”carilah ilmu walau sampai ke negeri cina”. Dalam hadist ini kita tidak dituntut mencari ilmu ke cina, tetapi dalam hadist ini rasulullah menyuruh kita mencari ilmu dari berbagai penjuru dunia. Walau jauh ilmu haru tetap dikejar.
Dalam hadist yang lain Rasulullah bersabda, “sedekah yang paling utama adalah orang islam yang belajar suatu ilmu kemudian diajarkan ilmu itu kepada orang lain.”(HR. Ibnu Majah).
Maksud hadis diatas adalah lebih utama lagi orang yang mau menuntut ilmu kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah yang paling utama dibanding sedekah harta benda. Ini dikarenakan mengajarkan ilmu, khususnya ilmu agama, berarti menenan amal yang muta’adi (dapat berkembang) yang manfaatnya bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu sendiri, tetapi dapat dinikmati orang lain.
Muslim sejati ialah muslim yang mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, serta ittiba’ hanya kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu untuk menjadi seorang muslim yang benar, ia harus menuntut ilmu syar’i. Ia harus belajar agama Islam, karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam diutus Allah ta’ala untuk membawa keduanya. Allah ta’ala berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS At Taubah:33 dan Ash Shaf : 9). Allah ta’ala juga berfirman :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS Al Fath : 28). Yang dimaksud dengan الهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan دِيْنُ الْحَقِ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, menjelaskan tentang nama-nama Allah ta’ala, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, hukum-hukum dan berita yang datang dariNya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah ta’ala, mencintaiNya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[1].
Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah ta’ala adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu sebagai jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), untuk memahami antara yang haq dan bathil, yang bermanfaat dengan yang mudaharat (membahayakan), yang dapat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Seorang muslim tidaklah cukup hanya menyatakan ke-Islamannya, tanpa memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya itu harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam.
Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه ابن ماجه 224 عن أنس بن مالك رضي الله عنه
Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. (HR Ibnu Majah No. 224 dari shahabat Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, lihat Shahih Jamiush Shagir, no. 3913) [2]

Keutamaan Ilmu dan Menuntutnya
Ilmu memiliki banyak keutamaan, di antaranya :
1. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
…مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ (رواه مسلم4/2074 رقم 2699 و غيره عن أبي هريرة رضي الله عنه)

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. (HR Muslim 4/2074 no. 2699 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu).
2. Warisan para Nabi, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ رَوَاه التِّرْمِذِيْ
Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun hanya mewariskan ilmu. Sehingga siapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mengambil bagian sempurna darinya (dari warisan tersebut). (HR At Tirmidzi ).
3. Allah ta’ala mengangkat derajat ahli ilmu di dunia dan akherat, sebagaimana firmanNya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan:”Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah : 11).
4. Ilmu Pintu kebaikan dunia dan akherat, sebagaimana sabda Rasululloh shalallahu ‘alaihi wasallam :
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barang siapa yang Allah inginkan padanya kebaikan maka Allah fahamkan agamanya.

Kemuliaan Ilmu atas Harta
1. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
2. Ilmu itu menjaga yang empunya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.
3. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.
4. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedang ilmu justru bertambah dengan diajarkan.
5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan dengan hartanya, sedang ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.
6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja baik orang beriman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedang ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja.
7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan dirinya dan kemuliaannya. Sedang harta, ia tidak membersihkan dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaannya dan keinginannya kepada harta adalah ketidaksempurnaan dirinya.
8. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar semua ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar semua kesalahan.
9. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah ta’ala dengan ilmunya dan akhlaknya, sedang orang kaya itu mengajak manusia ke neraka dengan harta dan sikapnya.
10. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedang kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para malaikat dan kegembiraan mereka. Antara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang mencolok.

Faktor Pembantu Dalam Menuntut Ilmu
Faktor pembantu dalam keberhasilan menuntut ilmu sangat banyak sekali, diantaranya:
1. Taqwa
2. Do’a
3. Konsistensi dan kontinyuitas dalam menuntut ilmu
4. Menghafal
5. Mulazamah ulama

Cara Tahshiel (Mendapatkan) Ilmu
Ada dua cara mendapatkan ilmu :
1. Dengan menelaah dan mangambil ilmu dari kitab-kitab yang terpercaya yang telah ditulis para ulama yang sudah dikenal aqidah dan amanahnya
2. Dengan menerima langsung dari guru yang terpercaya kelilmuan dan kesholehannya. Cara inilah yang paling cepat dan gampang dalam mengambil ilmu agama.

2.4. Tanggung Jawab Terhadap Alam dan Lingkungan
Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, memiliki ketergantungan terhadap alam. Namun, di sisi lain, manusia justru suka merusak alam. Bahkan tak cukup merusak, juga menhancurkan hingga tak bersisa.
Tiap sebentar kita mendengar berita menyedihkan tentang kerusakan baru yang timbul pada sumber air, gunung atau laut. Para ilmuwan mengumumkan ancaman meluasnya padang pasir, semakin berkurangnya hutan, berkurangnya cadangan air minum, menipisnya sumber energi alam, dan semakin punahnya berbagai jenis tumbuhan dan hewan.
Sayangnya, meski nyata terasa dampak akibat kerusakan tersebut, sebagian besar manusia sulit menyadarinya. Mereka berdalih apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan masa depan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya; tragedi masa depan itu sedang berjalan di depan kita. Dan, kitalah sesungguhnya yang menjadi biang kerok dari tragedi masa depan tersebut.
Manusia telah diperingatkan Allah SWT dan Rasul-Nya agar jangan melakukan kerusakan di bumi. Namun, manusia mengingkari peringatan tersebut.
Allah SWT menggambarkan situasi ini dalam Al-Qur’an: “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-Baqarah:11)
Allah SWT juga mengingatkan manusia: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)’. Katakanlah, ‘Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).’’ (QS Ar-ruum: 41-42)
Pada masa sekarang pendidikan lingkungan menjadi mutlak diperlukan. Tujuannya mengajarkan kepada masyarakat untuk menjaga jangan sampai berbagai unsur lingkungan menjadi hancur, tercemar, atau rusak.
Untuk itu manusia sebagai khalifah di bumi dan sebagai ilmuwan harus bisa melestarikan alam. Mungkin bisa dengan cara mengembangkan teknlogi ramah lingkungan, teknologi daur ulang, dan harus bisa memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak.

2 komentar:

  1. Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

    BalasHapus
  2. Thanks ya gan udah sharing, thanks kebetulan sedang ada tugas ni hehe tengkyu bacaanya :)

    BalasHapus